Baca di smartphone, unduh aplikasinya : 

//Pemerintahan // Pers // Video

Wartawan Bukan Maling, Wartawan Juga “Jangan Sak Enake Dewe”

Redaksi Pojok Kiri Pasuruan
24 November 2020

Oleh: Sulistiawan, Kepala Biro Pojok Kiri Pasuruan


Ilustrasi by google

Tanggal 13 November 2020 lalu, di Kabupaten Pasuruan ada kejadian, seorang wartawan yang datang sore hari ke SMPN 2 Purwodadi mengambil foto proyek rehab sekolah diibaratkan seperti maling oleh sang Kepala Sekolah, Didiek Primadiyanto.

Alasan Didiek saat menyampaikan klarifikasi ke wartawan pada Rabu, 18 November di kantor Dispendik Kabupaten Pasuruan, si wartawan datang di luar jam dinas dan memasuki pekarangan sekolah tanpa ijin.

Alasan lain kenapa Didiek Primadiyanto menyebut sang wartawan saat itu ibarat maling dengan kalimat “Siapa saja yang datang di luar jam dinas ya maling” adalah ucapan sang wartawan yang dianggap Didiek sangat fullgar bilang” “batime akeh” (banyak untungnya) dari proyek yang sudah dikerjakan.

Didiek saat itu marah hingga muncullah kata-kata “siapa saja yang datang di luar jam dinas adalah maling”.

Baca Juga :  Soal Wartawan Diibaratkan Maling Oleh Kepsek SMPN 2 Purwodadi, Aliansi Journalis Pasuruan Rencana Geruduk DispendiK #Ada Tekanan Dari Sekretaris Dispendik Agar Yang Datang 5 Orang Saja

Cerita lain Didiek, saat itu ia mengaku sangat capek, hingga dirinci sampai sudah melepas sepatu.

Wartawan maling? Itu ucapan kelewatan seorang ASN pemerintah yang berkedudukan sebagai kepala pendidik di sebuah sekolah. Sikap Kepsek SMPN 2 Purwodadi ini sama saja membuka fakta dirinya sendiri yang mudah marah. Jika demikian bagaimana nasib murid-muridnya. Harusnya Didiek Lebih menghargai dirinya dengan menunjukkan SDM yang bagus sebagai kepala sekolah.

Apakah wartawan maling? Jika terjadi ada wartawan mencuri, itu bukan wartawannya, tapi oramgnya. Karena tugas wartawan adalah mencari, mengumpulkan dan mengirim berita. Jika mencuri, dia bukan wartawan.

Lepas dari itu, Didiek Primadiyanto sendiri sudah mengaku salah dan meminta maaf. Namun ucapan Didiek yang melukai insan media ini masih membekas sangat dalam di dasar empedu.

Okey, Didiek sudah mengaku salah dan minta maaf. Lalu bagaimana dengan wartawannya sendiri? Di sinilah perlu yang namanya instropeksi diri. Saat menghadapi sumber atau pihak yang dikonfirmasi harus mau menghormati. Jangan anggap mereka itu teman, tapi anggaplah sebagai orang penting yang yang pada dasarnya kita butuh hasil konfirmasinya.

Catatan lucu dari wartawan yang sempat dikatakan maling oleh Didiek, ia bilang “batine akeh” dengan dalih bergurau. Tentu itu salah. Jika konfirmasi ya yang serius, bukan bergurau. Jadi jangan “sak enake dewe”

Dari kasus ini mari kita belajar memposisikan diri. Jika kita wartawan ya posisikan sebagaimana wartawan sebenarnya, jika kita berteman ya posisikan sebagai teman. Dan jangan pernah memandang rendah orang yang ada di hadapan kita, meski dia pengemis sekalipun. (*)

Sudah dibaca : 100 Kali
 







Berkomentarlah yang baik. Apa yang anda sampaikan dalam komentar adalah tanggungjawab anda sendiri




close