Baca di smartphone, unduh aplikasinya : 

HOME // Pasar // Pemerintahan // Perdagangan

“Perang” Lawan Komisi 1, Suryono Pane Dan Ayi Suhaya Pasang Badan Bela Pedagang Pasar Gondang Legi

   Redaksi Pojok Kiri Pasuruan    Pada: Juli 8, 2020
Ayi Suhaya dan Suryono Pane Turun ke Pasar Gindanglegi

Pasuruan, Pojok Kiri
Komisi 1 DPRD Kabupaten Pasuruan dalam rapat dengar pendapat dengan pedagang pasar Gondanglegi bersama Kades dan perangkat desa Cangkringmalang serta instansi terkait pada Senin (06/07) berbuntut panjang. Pasalnya, ketua Komisi 1, Kasiman dengan lantang mendorong Pemkab Pasuruan untuk segera merelokasi pedagang pasar Gondanglegi tersebut.

Rabu (08/07), para pedagang bereaksi melakukan perlawanan. Mereka bersuara keras menolak dan mengecam sikap Komisi 1 tersebut.

Para pedagang tidak sendiri. Mereka mendapat dukungan dari sejumlah tokoh yang cukup kuat, seperti Ayi Suhaya, ketua Generasi Muda Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan dan Putra-putri TNI/Polri (GM-FKPPI) Kota dan Kabupaten Pasuruan, Suryono Pane, sang pengacara besar, Muchlis, LSM Jimat, serta sejumlah organisasi lain.

Suryono Pane

Sikap penolakan disuarakan dengan memampang poster di depan pasar. Mereka berteriak menyampiakan keluh kesahnya, serta mempertanyakan langkah Komisi 1 DPRD yang disebut melenceng dari tupoksinya.

“Pasar itu bukan urusan Komisi 1, kenapa malah bertindak membikin ruwet pedagang, “ujar Suryono Pane.

Sementara, Ayi Suhaya mengajak pedagang untuk melakukan perlawanan jika pemerintah terus bersikap dholim.

“Pemerintah jangan bersikap dholim, jangan menjajah rakyat sendiri. Jangan mengusir pedagang seenaknya tanpa ada solusi yang tepat, “ucap Ayi Suhaya.

Sementara itu, ketua Paguyuban pedagang Gondanglegi, Dudung Cahyono mengaku, sejak tahun 2015 masalah ini tidak ada penyelesaian. Menurutnya, pedagang siap pindah asalkan dengan status sama, yakni menempati pasar Kabupaten.

Baca Juga :  DLH Apa Fungsimu?

“Yang ditawarkan ke kami adalah pindah ke pasar desa yang dikelola oleh investor. Untuk pindah ke sana kami harus bayar mahal mencapai Rp. 40 juta per stand. Padahal kami saat ini menempati pasar Kabupaten. Harusnya kami dipindah ke pasar dengan status sama dan tidak bayar. Ini sangat membingungkan dan memberatkan, “ungkap Dudung.

Jika memang tidak ada pasar pemerintah yang disediakan lanjut Dudung, pedagang minta pasar Gondanglegi dibangun seperti pasar Gempol, Warungdowo dan pasar lainnya.

“Padahal sama-sama pasar Kabupaten, kenapa kami dibedakan, kenapa kami malah diusir, “keluh Dudung.

Sementara itu, Ayi Suhaya dan Suryono Pane mengaku akan terus mengawal para pedagang pasar Gondanglegi hingga memperoleh  keadilan sebagai pedagang di pasar kabupaten.

Ibu-ibu pedagang pasar suarakan penolakan relokasi

Terpisah, Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Pasuruan, Kasiman dalam unggahannya melalui WA group menyampaikan. Pihaknya sama sekali tidak ada maksud membikin ruwet. Namun sikap Komisi 1 didasari adanya Surat Keputusan Bupati Pasuruan Tahun 2015 untuk merelokasi pasar Gondanglegi.

“Apalagi Disperindag juga sudah mengeluarkan nota penutupan, bahkan petugas pasar sudah ditarik dan tidak ada restribusi. Kondisi pasar tersebut kumuh, pembuangan sampahnya di sungai serta akan digunakan untuk pembangunan Puskesmas pembantu. Kenapa kok ada yang menghalangi. Ada apa ini? Hayo siapa yang resek dan ruwet. Pemkab atau orang yang membekengi pasar kumuh, “tandas Kasiman. (Lis)

Baca Juga :  Kasus SMKN 1 Rembang Finish Kacabdis: Semua Sudah Saling Minta Maaf
Sudah dibaca : 581 Kali