Baca di smartphone, unduh aplikasinya : 

//Pendidikan

Fingerprint Bobrok Di SMPN 7 Pasuruan Rusak Hubungan Anak Dan Orangtua

Redaksi Pojok Kiri Pasuruan
30 November 2019


Alat absensi fingerprint di SMPN 7Pasuruan, Pojok Kiri
Absensi menggunakan teknologi fingerprint saat ini sudah lazim dilakukan. Hampir semua instansi memasang sarana teknologi fngerprint untuk menjaga kedisiplinan.

Salah satu yang menggunakan teknologi absensi fingerprint adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 7 yang ada di Sebani, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan.

Di sekolah ini, baik guru maupun murid diwajibkan menggunakan absensi fingerprint guna mengetahui kehadiran mereka setiap hari.

Namun adanya absensi fingerprit di SMPN 7 ini justru berbuah masalah. Sebab ada catatan ketidak cocokan kehadiran murid dengan data yang direkam oleh alat yang membaca sidik jari ini. Dimana beberapa wali murid mengeluh mendapat laporan dari sekolah jika anaknya selalu datang ke sekolah terlambat. Padahal anaknya mengaku selalu datang tepat waktu bahkan sebelum bel masuk berbunyi.

Kejadian ini dialami banyak murid. Akibatnya, hubungan antara orangtua dan si anak menjadi panas karena orang tua menganggap anaknya yang bandel dengan datang terlambat.

“Saya sering marah ke anak saya setelah ada laporan sekolah yang mengatakan anak saya sering datang terlambat. Tapi anak saya selalu menyangkal, anak saya mengaku datang di sekolah tidak pernah telat, jadi saya ini bingung, yang benar yang mana. Apalagi pihak sekolah kalau kirim laporan hanya lewat SMS, bukannya kami dipanggil untuk diajak bicara. Ini sangat merugikan kami dalam keluarga, “ungkap salah satu wali murid yang namanya minta tidak disebut.

Baca Juga :  Soal Insentif Yang 'Raib' Satu Bulan, Ketua Honorer K2 Ngaku Belum Ada Pejelasan Dari Dispendik

Tak hanya soal kehadiran, di sekolah ini juga menyampaikan kabar ke orangtua ketika anak-anaknya waktunya pulang. Lucunya, laporan yang disampaikan justru terlambat. Misal si anak pulang jam 11 siang dan sudah sampai rumah, kabar baru masuk seiktar pukul 13.00 WIB.

“Pokoknya kacau, harus ada evaluasi soal alat itu, “ucap sang wali murid.

Pojok Kiri pada Jum’at (29/11) sempat mendatangi SMPN 7 guna meminta penjelasan terkait alat absensi fingerprint ini.

Harapan Pojok Kiri ada penjelasan, apakah alatnya sudah rusak atau ada kesalahan teknis perekamannya.
Sayangnya, Pojok Kiri yang datang sekitar pukul 11. 00 WIB tidak berhasil menemui Kepala Sekolah SMPN 7, Li’ami. (ziz)

Sudah dibaca : 477 Kali
 







Berkomentarlah yang baik. Apa yang anda sampaikan dalam komentar adalah tanggungjawab anda sendiri