Baca di smartphone, unduh aplikasinya : 

HOME // Hukum

Anggota LSM Ditangkap Karena Pemerasan, Apakah Yang Melapor Aman?

   Pojok Kiri Pasuruan    Pada: Oktober 1, 2018

Oleh: Sulistiawan

     Kamis 27 September 2018 lalu, seorang pria yang mengaku sebagai anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Barata bernama Khusairi (45), warga Jl. Karang Juwet RT 32 RW 5, Kelurahan Wirogunan, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan ditangkap polisi lantaran dilaporkan oleh seorang Kepala Desa (Kades) Karangasem, Wonorejo bernama Toyib (41). Ia dalam aksinya dianggap telah melakukan pemerasan terhadap Toyib yang disebut ada masalah terkait pengelolaan Dana Desa (DD) tahun 2017.
    Kronologi penangkapan sebagaimana dijelaskan Kasat Reskrim Polres Pasuruan, AKP Budi Santoso saat itu, pihak Kades melapor ke Polsek Wonorejo jika ada LSM yang terus memerasnya. Laporan itu lalu diteruskan ke Polres Pasuruan untuk ditindaklanjuti.
    Kamis, 27 September 2018 penangkapan dilakukan. Saat itu Kades Toyib telah menyiapkan uang Rp 7 juta sebagai umpan pancingan. Si oknum LSM akhirnya terpencing dan ditangkap polisi setelah menerima uang dari Kades Toyib senilai Rp. 7 Juta.
     Mengapa si Kades tiba-tiba punya pikiran lapor polisi? Rupanya si Kades sudah tidak betah selalu menjadi ATM oleh si oknum LSM.
    Cerita dari Toyib sebagaimana disampaikan oleh Kasatreskrim AKP Budi Santoso kala itu. Awal Bulan Agustus 2018, korban yang seorang Kades ditelepon oleh Kusairi yang mengaku dari LSM Barata. Saat itu si oknum LSM minta bertemu guna membicarakan temuan adanya penyalahgunaan Dana Desa (DD) tahun 2017 di Desa Karangasem.
    Saat itu si Kades memberikan uang Rp 3 juta sebagaimana yang diminta si oknum LSM. Uang itu katanya sebagai jaminan kasusnya akan ditutup dan berjanji tidak dilaporkan.
    Namun bukannya kasus mandeg, pada 24 September 2018, Kades Toyib mendapatkan somasi pertama dan terakhir dari LSM DPN LPPNRI dari Jakarta, yang intinya juga sama, yakni terkait adanya temuan dugaan penyalahgunaan DD tahun 2017.
    Mendapat somasi itu, korban menjadi panik. Ia lalu menghubungi si Kusairi sang oknum LSM. Ia menanyakan tentang perjanjian yang sudah dibuat, yakni kasusnya tidak dilaporkan.
     Bukannya memenuhi janji menyelesaikan dan menutup kasusnya, pelaku malah meminta uang kembali pada korban senilai Rp. 50 juta yang katanya untuk mencabut pengaduan ke Polda dan memberikan pada pihak LSM yang mengaku dari Jakarta itu.
    Merasa dipermainkan, si Kades jadi gelap mata. Entah dia sendiri punya masalah atau tidak, ia-pun lalu melapor ke polisi. Ia dan polisi lalu sepakat menjebak dengan iming-iming akan dicicil sebesar Rp. 7 juta. Endingnya, si Kusairi akhirnya ditangkap karena perbuatannya melakukan aksi pemerasan.
    Lantas bagaimana dengan si Kades Toyib yang karena ketakutannya mau memberi uang kepada oknum LSM?
    Untuk digarisbawahi, sebagaimana cerita yang muncul dari polisi berdasar pengakuan Kades, ada pemberian uang sebelumnya oleh si Kades kepada Oknum LSM dengan tujuan agar kasus dugaan penyalahgunaan DD tahun 2017 tidak diungkap atau dilaporkan. Artinya dalam kasus pemerasan ini, pihak Kades juga harus diusut, bukan hanya oknum LSM-nya saja. Sebab munculnya kasus pemerasan itu terjadi karena diduga ada kasus lain, yakni dugaan penyelewengan Dana Desa oleh si Kades.
     Jika tidak ada masalah atau tidak bersalah, kenapa Kades Toyib takut dan memberi uang kepada oknum LSM?
    Dengan kejadian ini, citra LSM dipertaruhkan, langkah Kades melapor yang kemudian ditindaklanjuti polisi dengan menangkap si oknum LSM tidak bisa didiamkan. LSM harus berani membongkar kasus sebenarnya yang memicu munculnya kasus pemerasan ini. Jika terbukti ada penyalahgunaan Dana Desa di Kades juga harus dipenjara. (*)

Baca Juga :  7 Hari Lakukan Seleksi, Kejari Kabupaten Pasuruan Siap Bawa Jago Terbaik Ke Kejati Jatim

Sudah dibaca : 125 Kali